Postingan

cerpen fiksi tentang tokoh Sastra Jahiliyah

"The tongue of a man is one half, and the other half is his mind, and here is nothing besides these two, except the shape of the blood and the flesh". (Zuhayr bin Abi Sulma) “Apa yang kamu lakukan Burdah!? Amran itu temanmu! Lemparkan pisau itu!” teriak Ummu Amran melihat anaknya terancam terbunuh. Sementara itu orang- orang hanya terdiam melihat kejadian didepan mata mereka. Cukup lama kerumunan itu tertegun, lalu datanglah Asma dan berkata, “apa ini? Bagaiman seorang yang sudah setua dirimu begitu kekanakan?” Hanya dengan kalimat itu, Burdah melepas cekikan dan pisaupun terjatuh. Asma seperti biasa, orang yang pemberani dan kata- katanya tajam. Dan seperti biasa pula, Burdah selalu merasa malu dan kikuk saat didekat Asma. Zaman Jahiliyah, dimana Asma begitu dihargai dan begitu dihinakan. Saat menjadi perempuan, ia diperjual bellikan bak barang dagangan. Namun saat menjadi penyair, tak seorangpun berani menyanggah kata- katanya. ...

ayo girls, masih mau?

Gambar
MAWAR Merah itu masih merona Dan aku tak mengerti kenapa ia masih disana Apa hanya untuk menguras rinduku Merah itu masih bermekaran Dan aku tak mengerti kenapa dia mengumbar kecantikannya Apa hanya untuk membuatku kembali tertarik Tidak, Takkan kubiarkan dia menggenggamku Biarlah saja dia layu Asal durinya tak menancap di hatiku.

someone

Setiap detik yang kulalui kini sunyi Padang rumput hijaupun tlah jadi gurun Waktuku berlalu dengan hitam kelabu Selalu merasa sakit tanpa sebab Aku tenggelam dalam kegalauan Tak dapat kutahan air mata yang mendung Yang membuat mata ini terlalu sembab Dan lagi, Aku menangis karenamu Entah apa yang membuatku begitu merasa sakit Tapi itulah yang aku rasakan Tak dapat ku hindari rasa perih Merajut asa dalam genengan air mata Batinku mengerang, Berteriak, Memanggil dirimu, Yang tak kunjung datang. Kau, cinta yang tak dapat aku miliki Dapatkah aku terus memandangmu Merasakan kebahagiaan berada disampingmu Meski tak pernah engkau anggap Kau, sayang yang tak dapat aku rasakan Dapatkah aku terus menunggumu Meskipun tiada akhir Merasakan indahnya kesempurnaanmu Meski tak dapat ku sentuh Kapankah kau bisa menyadari, Betapa aku takut kehilanganmu Meski aku tak pernah memilikimu..